Kamis, 24 Februari 2011

Tentang Kopi, Kopi dan Kopi

Kandungan kopi didominasi oleh senyawa alkaloid xantina berbentuk kristal yang memiliki sensasi rasa pahit. Adalah Friedrich Ferdinand Runge, kimiawan Jerman, yang mengidentifikasi senyawa ini pada 1819. Ia memberi nama kafein untuk senyawa yang bekerja menyerupai obat perangsang psikoaktif dan diuretik itu.

Kandungan kimiawi kopi diantaranya:

  1. Kafein. Seperti nikotin dan kokain, kafein adalah alkaloid, yaitu racun yang diproduksi tanaman. Racun imenutupi receptor syaraf yang menerima adenosin, yaitu sinyal kimiawi tidur. Akibatnya: kita bangun
  2. Etilfenol. Senyawa berbau tar. Benda ini juga ditemukan di feromon pada kecoa — senyawa yang mereka gunakan sebagai alarm tanda bahaya bagi kelompoknya.
  3. Quinic Acid (Asam Kina?). Ini yang memberi kopi sedikit rasa asam. Tapi senyawa ini juga digunakan sebagai starter pada Tamiflu.
  4. Dicaffeoyl-Quinic Acid. Ini antioksidan di dalam kopi. Saat para ilmuwan mengenakan senyawa ini pada neuron, sel-sel itu meningkat daya lindungnya terhadap kerusakan dari radikal bebas.
  5. Asetilmetil-Karbinol. Rasa mentega yang kaya pada kopi itu berasal dari cairan kuning yang mudah menyala ini.
  6. Putrescine. Kenapa daging busuk beracun? Bakteri E. coli mengurai asam amino menjadi putrescine, yang terdapat secara alami di dalam biji kopi ini. Baunya … tebak sendiri.
  7. Trigonelline. Ini molekul niacin yang melekat pada kelompok metil. Ia terurai menjadi pyridin, yang memberi kopi rasa agak manis, aroma tanah, dan mencegah bakteri Streptocollus mutan perusak gigi itu untuk melekat di gigi. Ya, kopi menyehatkan gigi.
  8. Niacin. Trigonelline tidak stabil pada suhu di atas 70ºC, dan dapat terurai menjadi niacin — vitamin B — di cangkir kita. Dua cangkir kopi memenuhi setengah kebutuhan vitamin B harian kita.

Jika merujuk pada sejarah penemuan kopi, dapatlah dipahami mengapa penggembala Ethiopia dan kambing-kambingnya yang memakan kopi tiba-tiba menunjukkan atraksi aneh berupa gerakan enerjik dan riang gembira. Sebab, kafein merangsang sistem syaraf pusat, menghadirkan sensasi segar, penuh tenaga, dan menghilangkan kantuk untuk sementara.



Kopi telah menjadi sumber utama kafein dunia sejak Zaman Batu. Saat itu, kopi dikonsumsi dengan cara dikunyah mentah, baik biji, daun, kulit pohon, maupun ranting-rantingnya. Manusia purba percaya tumbuhan kopi mampu mengusir lelah, merangsang kesadaran, dan memperbaiki suasana hati.

Tanaman sejenis kopi diperkirakan telah dikenal peradaban Cina semasa Kaisar Shénnóng‎ (3000 SM). Ditulis dalam Cha Jing, karya sastra Lu Yu, tentang tumbuh-tumbuhan yang diseduh dengan air mendidih dan dijadikan minuman beraroma wangi, memiliki khasiat memulihkan tenaga.

Malaye Jaziri, ilmuwan Persia, pada 1587, menulis “Undat al Safwa fi Hill al-Qahwa” tentang kontroversi minuman kopi. Dalam karya sastra tersebut, Jaziri mengisahkan tentang mufti Aden, Sheikh Jamaluddin al-Dhabhani, yang meminum kopi dan terus terjaga sepanjang malam untuk berdoa.

Kandungan Kafein dalam Kopi

Kopi memiliki kandungan kafein yang bervariasi. Kadarnya dipengaruhi oleh jenis biji kopi, pengolahan, dan cara penyajiannya. Dunia mengenal beberapa jenis varietas kopi dengan kadar kafein yang berbeda-beda. Kopi arabika misalnya, memiliki rata-rata 40-100 mg kandungan kafein dalam satu cangkir kopi. Jumlah ini sedikit lebih kecil dibanding kopi robusta.

Berikut ini perbandingan kadar kafein pada beberapa jenis minuman kopi.

   1. Kopi instan: 2,8 - 5,0%.
   2. Kopi moka: 1,00%.
   3. Kopi robusta: 1,48%.
   4. Kopi arabika: 1.10 %.

Pengolahan biji kopi berpengaruh pada kandungan kafeinnya. Hal ini tampak pada kopi jenis dark-roast yang diolah dengan metode pemanggangan. Pemanggangan menyebabkan banyak senyawa kafein yang rusak sehingga kadar kafeinnya lebih rendah dari jenis kopi lain.

Sebelum dikonsumsi, biji kopi melewati serangkaian tahap pengolahan.

   1. Pengeringan untuk memisahkan biji kopi dari cangkangnya. Pengeringan dilakukan dengan bantuan cahaya matahari langsung atau dengan oven. Proses ini cukup banyak menghilangkang kandungan kafein kopi.
   2. Pencucian biji kopi dan proses fermentasi singkat.
   3. Pemanggangan untuk meningkatkan cita rasa kopi. Proses ini juga cukup banyak menghilangkan kadar kafein kopi.
   4. Penggilingan untuk efektivitas saat ekstraksi.
   5. Perebusan adalah langkah penutup pengolahan kopi. Prosesnya membutuhkan komposisi yang baik antara biji kopi dan air, ukuran partikel, suhu air yang dipakai, metode, dan waktu perebusan.
   6. Dekafeinasi adalah proses tambahan apabila diinginkan penurunan kadar kafein. Biasanya, dilakukan dengan melarutkan kafein dalam senyawa metilen klorida dan etil asetat.

Fungsi Kafein

Kafein dalam tubuh berperan untuk meningkatkan kerja psikomotorik. Kafein memberi efek rasa segar dan energi meningkat. Dalam tinjauan kimiawi, kafein mengandung molekul metabolit yaitu 1-3-7-asam trimetilurat, paraksantina, teofillina dan teobromina.

Molekul tersebut memiliki kemampuan mengikat reseptor adenosine, nukleotida di dalam otak yang merespons rasa lelah. Itulah sebabnya mengapa kafein bisa menghilangkan rasa lelah.

Dampak selanjutnya adalah meningkatnya aktivitas otak dan terlepasnya hormon epinefrin. Hormon epinefrin mampu menaikkan kerja jantung, menambah tensi darah, melancarkan peredaran darah, dan mengeluarkan glukosa dari hati. Uniknya, otak mampu mengeluarkan kafein dengan cepat, berbeda dengan alkohol yang sulit terlepas sehingga mengganggu fungsi mental.

Sebelumnya, banyak anggapan bahwa kopi (kafein) menimbulkan efek negatif berupa risiko kanker, diabetes melitus, insomnia, dan penyakit jantung. Namun, penelitian ilmiah justru menyatakan sebaliknya.

Kandungan kafein kopi mengandung senyawa antioksidan dalam jumlah yang cukup banyak dan mampu menekan perkembangan sel kanker, menurunkan risiko terkena diabetes melitus, dan meningkatkan sensitivitas terhadap insulin. Kopi juga terbukti mencegah risiko serangan jantung.

Jangan Berlebihan

Meskipun banyak manfaat kafein bagi tubuh, hendaknya kita membatasi konsumsi kopi dalam area aman. Sebab, sesuatu yang berlebihan pasti memiliki efek yang kurang baik. Penelitian medis menentukan batas aman konsumsi kafein adalah 100-150 mg per hari.

Konsumsi yang melebihi ambang normal bisa menyebabkan intoksikasi kafeina, semacam mabuk kafein. Gejala yang terlihat pada kasus seperti ini adalah timbulnya rasa resah, risau, insomnia, dan sering buang air kecil.

Pada kasus yang lebih serius, intoksikasi kafeina bisa menyebabkan kejang otot, pikiran kusut, kepanikan, denyut jantung terganggu, dan gejolak psikomotor. Jadi, pastikan Anda berada di area aman mengonsumsi kopi.


sumber :
http://agushardiyanto.blogspot.com & http://www.anneahira.com

1 komentar:

iseng batara mengatakan...

kerennnnnnnnnnnnnnn like this

Posting Komentar