Gempa 8,9 skala Richter yg menyebabkan tsunami di Jepang pada hari Jumat 11 Maret lalu, selain menimbulkan dampak kerusakan berat & korban jiwa yang saat ini diberitakan menelan 1900 jiwa, juga menimbulkan kekhawatiran akan rusak/ bocornya reaktor nuklir di Fukushima karena gagalnya sistem pendingin yg rusak akibat gempa & tsunami.
Meski dilansir IAEA bahwa tidak ada kebocoran reaktor nuklir karena berbeda dengan Chernobyl, reaktor nuklir di Fukushima memiliki benjana pengaman dan PLTN Fukushima akan mematikan reaktornya secara otomatis bila terjadi bencana alam.
Namun radiasi yang terjadi saat ini diklaim pemerintah bukanlah karena kebocoran reaktor nuklir melainkan karena reaksi hidrogen akibat ledakan saat operator memompa air laut kedalam reaktor, terpantau kemarin pagi tingkat radiasi yakni 8.217 microsievert. Sejak gempa, reaktor yang mengalami gangguan adalah reaktor unit 1, 2 dan 3.
Beredar luas dimasyarakat baik sms, fb maupun twitter akan terjadinya hujan asam akibat radiasi nuklir yang terjadi di Jepang, memang hal ini perlu diwaspadai tapi pihak BATAN meluruskan bahwa diperkirakan tidak sampai sejauh itu karena radiasi ini bukan berasal dari bocornya reaktor nuklir tapi berasal dari hidrogen pendingin reaktor nuklir, demikian juga dijelaskan Ketua Badan Nuklir Jepang Koichiro Genba. Meski demikian dilaporkan 22 orang terkontaminasi radiasi akibat ledakan tersebut dan diperkirakan 190 orang lainya terekspos. Saat ini ilmuwan dan teknisi berjuang keras mengendalikan dua reaktor yang overheat dengan memompa air laut. Genba juga menuturkan Fukushima tak kan ada terjadi kemungkinan seperti Chernobyl.
Peristiwa Chernobyl adalah insiden nuklir terburuk sepanjang sejarah karena rasio radiasinya 400kali bom atom Hiroshima, sekitar 237 orang terkena penyakit radio aktif akut, 31 tewas pada bulan pertama, terjadi pada 26 April 1986.
Bagaimana dengan rencana pengembangan PLTN di Indonesia, apakah indeks kepercayaan PLTN akan turun drastis dan banyak penolakan akibat peristiwa Fukushima ini, kalau menurut saya tidak perlu khawatir, yang berbahaya di Indonesia bukanlah radiasi nuklir, namun manusia Indonesia itu sendiri. Kenapa manusia Indonesia lebih berbahaya dari radiasi nuklir.
Sebab apabila ada pembangunan PLTN maka pasti akan dikorupsi oleh manusia Indonesia, artinya material bahan bangunan dan bahan-bahan reaktor nuklir akan dikorupsi anggarannya sehingga bahan-bahannya berkualitas murah, buruk dan mudah rusak, yang penting kantong terisi duit tidak perduli pembangunan kualitas rendah, jika hal ini terjadi maka reaktor nuklir akan mudah sekali bocor bahkan meledak sewaktu-waktu, tanpa ada gempa atau tsunami pun tetap akan terjadi bahaya radiasi nuklir di Indonesia.
Meski dilansir IAEA bahwa tidak ada kebocoran reaktor nuklir karena berbeda dengan Chernobyl, reaktor nuklir di Fukushima memiliki benjana pengaman dan PLTN Fukushima akan mematikan reaktornya secara otomatis bila terjadi bencana alam.
Namun radiasi yang terjadi saat ini diklaim pemerintah bukanlah karena kebocoran reaktor nuklir melainkan karena reaksi hidrogen akibat ledakan saat operator memompa air laut kedalam reaktor, terpantau kemarin pagi tingkat radiasi yakni 8.217 microsievert. Sejak gempa, reaktor yang mengalami gangguan adalah reaktor unit 1, 2 dan 3.
Beredar luas dimasyarakat baik sms, fb maupun twitter akan terjadinya hujan asam akibat radiasi nuklir yang terjadi di Jepang, memang hal ini perlu diwaspadai tapi pihak BATAN meluruskan bahwa diperkirakan tidak sampai sejauh itu karena radiasi ini bukan berasal dari bocornya reaktor nuklir tapi berasal dari hidrogen pendingin reaktor nuklir, demikian juga dijelaskan Ketua Badan Nuklir Jepang Koichiro Genba. Meski demikian dilaporkan 22 orang terkontaminasi radiasi akibat ledakan tersebut dan diperkirakan 190 orang lainya terekspos. Saat ini ilmuwan dan teknisi berjuang keras mengendalikan dua reaktor yang overheat dengan memompa air laut. Genba juga menuturkan Fukushima tak kan ada terjadi kemungkinan seperti Chernobyl.
Peristiwa Chernobyl adalah insiden nuklir terburuk sepanjang sejarah karena rasio radiasinya 400kali bom atom Hiroshima, sekitar 237 orang terkena penyakit radio aktif akut, 31 tewas pada bulan pertama, terjadi pada 26 April 1986.
Bagaimana dengan rencana pengembangan PLTN di Indonesia, apakah indeks kepercayaan PLTN akan turun drastis dan banyak penolakan akibat peristiwa Fukushima ini, kalau menurut saya tidak perlu khawatir, yang berbahaya di Indonesia bukanlah radiasi nuklir, namun manusia Indonesia itu sendiri. Kenapa manusia Indonesia lebih berbahaya dari radiasi nuklir.
Sebab apabila ada pembangunan PLTN maka pasti akan dikorupsi oleh manusia Indonesia, artinya material bahan bangunan dan bahan-bahan reaktor nuklir akan dikorupsi anggarannya sehingga bahan-bahannya berkualitas murah, buruk dan mudah rusak, yang penting kantong terisi duit tidak perduli pembangunan kualitas rendah, jika hal ini terjadi maka reaktor nuklir akan mudah sekali bocor bahkan meledak sewaktu-waktu, tanpa ada gempa atau tsunami pun tetap akan terjadi bahaya radiasi nuklir di Indonesia.


0 komentar:
Posting Komentar