Waku Wakerkwa pernah pindah dari Wamena ke Timika karena tergiur kilau emas. Ia menjadi pendulang emas di kawasan tambang PT Freeport. Namun setelah sekian lama, ia akhirnya berpaling ke emas hitam, yakni kopi, dan memutuskan kembali ke Wamena.
Tahun 1993, Waku Wakerkwa sebenarnya sudah menjadi petani kopi di Wakamena. Namun, setelah dua tahun budidaya kopi ini dirasa tak menghasilkan, ia memutuskan menebang habis pohon kopinya dan menanam tanaman palawija seperti talas, ubi jalar dan sayuran.
Didorong oleh kebutuhan hidup yang makin besar, tahun 2003, Waku Wakerkwa, yang kini berusia 50 tahun, meninggalkan desanya, Pirime di Kabupaten Jayawijaya, dengan harapan mendapatkan hidup yang lebih baik di Timika, menyusul beberapa anggota keluarganya.
Gagal mencari kerja di Timika, ia memutuskan bergabung dengan keluarga besarnya mendulang emas di kawasan tambang PT Freeport. Menyusuri sungai untuk mendulang emas selama seminggu bukan hal asing baginya. Ia baru kembali ke Timika setelah menemukan paling tidak 2 gram emas untuk dijual di Timika.
Tahun 2009, Wakerkwa mendengar kabar dari kantor USAID/AMARTA (Agribusiness Market and Support Activity) mengenai program PADA (Papua Agriculture Development Alliance) yang sedang membantu Koperasi Baliem Arabika untuk meningkatkan produksi dan kualitas Kopi Arabika di Lembah Baliem.
“Saya dengar koperasi membeli kopi dengan harga lebih tinggi dan telah melatih petani untuk meningkatkan produksi," katanya seperti dikutip dalam siaran pers U.S. Agency for International Development (USAID), Rabu (20/4/2011), saat memperingati berakhirnya proyek AMARTA yang telah berlangsung selama 5 tahun.
Ia juga mendengar bahwa koperasi membeli kopi langsung dari petani sehingga dapat mengurangi biaya transportasi petani. Tertarik oleh apa yang didengarnya, Wakerkwa memutuskan kembali ke desanya.
Di Wamena ia kembali menanam kopi di lahannya. Saat menjual panen kopi perdananya, dan mendapat harga lebih tinggi dari bayangannya, Wakerkwa berseru “Niniki Ale’nggen…Abuiya!” yang berarti “Saya sangat senang... Sangat menakjubkan!”
Cerita keberhasilan itu membuat setidaknya tiga pendulang emas lain kembali ke lembah untuk menanam kopi. Kini beberapa keluarga sudah bisa hidup berkecukupan dari kopi.
Adapun program AMARTA di Papua memberikan pelatihan budidaya kopi, penanganan pascapanen, dan teknik pemrosesan kopi. Hasilnya, keuntungan yang didapatkan dengan menjual kopi, membuat petani seperti Wakerkwa mampu membantu beberapa program masyarakat seperti membangun gereja baru.
Wakerkwa pun bersyukur karena dulu memutuskan untuk kembali menjadi petani kopi dan tidak dibutakan kilau emas.
Tahun 1993, Waku Wakerkwa sebenarnya sudah menjadi petani kopi di Wakamena. Namun, setelah dua tahun budidaya kopi ini dirasa tak menghasilkan, ia memutuskan menebang habis pohon kopinya dan menanam tanaman palawija seperti talas, ubi jalar dan sayuran.
Didorong oleh kebutuhan hidup yang makin besar, tahun 2003, Waku Wakerkwa, yang kini berusia 50 tahun, meninggalkan desanya, Pirime di Kabupaten Jayawijaya, dengan harapan mendapatkan hidup yang lebih baik di Timika, menyusul beberapa anggota keluarganya.
Gagal mencari kerja di Timika, ia memutuskan bergabung dengan keluarga besarnya mendulang emas di kawasan tambang PT Freeport. Menyusuri sungai untuk mendulang emas selama seminggu bukan hal asing baginya. Ia baru kembali ke Timika setelah menemukan paling tidak 2 gram emas untuk dijual di Timika.
Tahun 2009, Wakerkwa mendengar kabar dari kantor USAID/AMARTA (Agribusiness Market and Support Activity) mengenai program PADA (Papua Agriculture Development Alliance) yang sedang membantu Koperasi Baliem Arabika untuk meningkatkan produksi dan kualitas Kopi Arabika di Lembah Baliem.
“Saya dengar koperasi membeli kopi dengan harga lebih tinggi dan telah melatih petani untuk meningkatkan produksi," katanya seperti dikutip dalam siaran pers U.S. Agency for International Development (USAID), Rabu (20/4/2011), saat memperingati berakhirnya proyek AMARTA yang telah berlangsung selama 5 tahun.
Ia juga mendengar bahwa koperasi membeli kopi langsung dari petani sehingga dapat mengurangi biaya transportasi petani. Tertarik oleh apa yang didengarnya, Wakerkwa memutuskan kembali ke desanya.
Di Wamena ia kembali menanam kopi di lahannya. Saat menjual panen kopi perdananya, dan mendapat harga lebih tinggi dari bayangannya, Wakerkwa berseru “Niniki Ale’nggen…Abuiya!” yang berarti “Saya sangat senang... Sangat menakjubkan!”
Cerita keberhasilan itu membuat setidaknya tiga pendulang emas lain kembali ke lembah untuk menanam kopi. Kini beberapa keluarga sudah bisa hidup berkecukupan dari kopi.
Adapun program AMARTA di Papua memberikan pelatihan budidaya kopi, penanganan pascapanen, dan teknik pemrosesan kopi. Hasilnya, keuntungan yang didapatkan dengan menjual kopi, membuat petani seperti Wakerkwa mampu membantu beberapa program masyarakat seperti membangun gereja baru.
Wakerkwa pun bersyukur karena dulu memutuskan untuk kembali menjadi petani kopi dan tidak dibutakan kilau emas.
sumber : www.kompas.com


0 komentar:
Posting Komentar