
Resah atas maraknya pewarna tekstil untuk makanan yang beredar di masyarakat, Dr Ir Elfi Anis Saati MP, seorang dosen fakultas teknologi hasil pertanian Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), menciptakan pewarna makanan alami dari bunga.
Dia ingin memproduksi pewarna makanan alami yang aman dan sehat bagi
masyarakat luas. Apalagi tampilan visual adalah hal yang pertama dilihat
konsumen dalam memilih makanan.
Dia tertarik membuat pewarna alami sejak ramainya pemberitaan tentang pewarna tekstil untuk makanan.
"Karena saya orang gizi, jadi perhatian saya ke arah keamanan pangan
lebih respek," kata alumnus S1 jurusan Gizi Masyarakat dan Sumber Daya
Keluarga Institut Pertanian Bogor (IPB) itu.
Ibu empat anak ini kerap menjumpai di televisi banyak oknum yang
menipu masyarakat dengan menjual pewarna tekstil serta pemakaian boraks
untuk banyak makanan. Menurut dia, ulah oknum nakal tersebut sangat
keterlaluan karena sangat membahayakan kesehatan.
Akhirnya tahun 2006, wanita yang juga auditor halal LP POM (Lembaga
Pengkajian Pangan Obat-obatan dan Kosmetika) MUI Jatim melakukan
penelitian optimalisasi fungsi ekstrak pigmen bunga kana merah sebagai
zat pewarna dan antioksidan alami. Penelitian itu terus berlanjut, dan
sampai pada 2010 ada sekitar tujuh produk pewarna dari tanaman seperti
bunga kana, mawar, turi merah, dan ubi jalar kuning ciptaan Elfi yang
telah dipatenkan oleh Ditjen Dikti. Segi keamanannya pun sudah terjamin
dan tidak beracun.
Elfi juga menunjukkan sebungkus tablet effervescent hasil penemuannya
yang terbuat dari mawar merah pada Merdeka.com. Tablet ini merupakan
salah satu penemuan Elfi yang telah diujicobakan pada tikus. Hasilnya,
pewarna tersebut berfungsi sebagai pelindung hati dan ginjal tikus.
Penelitian ini menelan biaya puluhan juta rupiah. Beruntung dia mendapat
dana hibah dari Ditjen Dikti (Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi)
Kemendiknas.
"Sejak 2000 penelitian, baru lima tahun selanjutnya dapat respons dikti," tutur dia.
Wanita yang juga penulis buku ini rela mengunjungi Universitas Gadjah
Mada (UGM), Serpong, hingga Australia untuk mengidentifikasi struktur
molekul mawar merah. Hasil pigmentasi mawar merah ini juga meraih banyak
penghargaan. Salah satunya The Five (5) Best Poster Product Halal
Excelent at World Halal Research di Kuala Lumpur 8-9 April 2011. Elfi
tidak menyangka bisa masuk lima besar dari puluhan peserta asal negara
Asia dan Eropa yang turut andil dalam kompetisi tersebut.
"Penghargaan ini yang paling berkesan," ucapnya lalu tersenyum.
Selain itu, karya Elfi diminati salah satu produsen kosmetik nasional
dan digunakan untuk pewarna hand & body lotion. Pewarna alami milik
Elfi memiliki warna yang cantik dan mengandung antioksidan yang
dihasilkan dari bunga.
Meski berprofesi sebagai peneliti dan dosen, Elfi mengaku tetaplah
seorang ibu. Dia sering dihadapkan pada pilhan antara keluarga dan
karir.
"Kalau ada urusan pekerjaan yang bisa diwakilkan, saya memilih bersama keluarga," ungkap wanita 46 tahun itu.
Elfi tetap melaksanakan perannya sebagai ibu dengan memasak,
menyeterika pakaian dan mengajari anak bungsunya yang masih duduk di
bangku SMA. Dia berbagi tugas dengan suami dan buah hatinya.
"Kalau anak kesulitan dalam pelajaran, saya dan suami ikut membantu.
Saya membantu di ilmu eksak, sedangkan suami di ilmu sosial," terang
Elfi.
Dia mengaku pernah mendapat protes dari anak-anaknya lantaran sibuk
saat menempuh pendidikan S3. Elfi dengan sabar memberi pengertian pada
si anak mengenai pekerjaannya. Dia menanamkan kebiasaan untuk saling
terbuka dalam keluarga. Elfi tak mengalami kendala berarti saat meniti
karir sambil menjadi ibu rumah tangga.
"Anak-anak sudah dewasa, tentunya sudah mengerti," pungkasnya.

0 komentar:
Posting Komentar