Keinginannya adalah pulang ke Tanah Air dan membagikan ilmu di negeri
yang ia cintai. Sayang, berkali mencoba, posisi menjadi pengajar di
beberapa universitas gagal ia raih. Padahal, wanita asal Makamhaji,
Kecamatan Kartasura, Kabupaten Sukoharjo, ini merupakan peneliti peraih
penghargaan tingkat dunia.
BERASAL dari keluarga sederhana, Sidrotun Naim (33) tak berkecil hati
dalam menggayuh pendidikan. Ia mewujudkan mimpinya dan meraih beasiswa
pendidikan di beberapa universitas terkemuka di Amerika Serikat,
sehingga berhasil meraih gelar doktor di Universitas Arizona.
Pada 2012, alumnus Institut Teknologi Bandung (ITB) itu juga meraih
penghargaan L'Oreal-UNESCO For Women in Science International.
Penghargaan prestisius tersebut dia raih atas kiprah dan kontribusi
penelitiannya di bidang sains bersama 14 perempuan peneliti muda lain
dari lima benua.
Naim meneliti infeksi myonecrosis, virus yang mampu melumpuhkan 70
persen populasi udang di Indonesia. Riset itu dinilai memberikan
kontribusi besar bagi dunia sains dan berpotensi meningkatkan
perekenomian di negeri ini, terutama dalam budi daya udang.
”Setelah lulus dari S2 Biologi Kelautan dari University of
Queensland, Australia, awal 2006, saya bekerja untuk World Wildlife Fund
(WWF)-Indonesia di Aceh. Di sana saya terlibat dalam rekonstruksi dan
rehabilitasi tambak pascatsunami,” papar Naim saat berbincang dengan
Suara Merdeka melalui situs jejaring sosial.
Dari situ, pemilik gelar SSi MSc MS PhD ini tahu bahwa faktor
pembatas budi daya udang adalah penyakit, dan Indonesia tidak punya satu
pun ahli yang khusus mendalami tentang penyakit udang. Padahal,
lanjutnya, udang adalah salah satu produk makanan laut andalan ekspor
Indonesia.
"Petambak bertanya, ini harus diapakan? Saya bingung menjawabnya."
Dia kemudian belajar dan melaku-kan penelitian untuk menemukan penawar penyakit udang yang merugikan petambak.
Dimulai dengan mengamati interaksi infectious myonecrosis virus
(IMNV), ia berhasil menemukan rasio serangan yang menyebabkan 70 persen
udang mati dan 30 persen hidup. Udang yang bertahan hidup selanjutnya
diamati.
Dari hasil penelitiannya di Universitas Arizona, AS, ia menemukan
bahwa infeksi tersebut dapat dikendalikan. Caranya, dengan menerapkan
sistem polikultur pada budi daya hewan laut itu.
Terima Konsultasi
Kegigihan istri Dedi Priadi itu dalam melakukan penelitian membuahkan
penghargaan internasional dari L'Oreal dan UNESCO. Penghargaan tersebut
diberikan kepada peneliti muda dan lima peneliti senior dari berbagai
negara.
Naim menjadi salah satu pemenang di Asia-Pasifik. Menurutnya,
penghargaan itu sangat istimewa dan diharapkan bisa menginspirasi para
perempuan muda.
Sayang, keberhasilan wanita yang terkenal sebagai ”doktor udang” di
kancah internasional ini tak seiring sejalan dengan kemudahan untuk
memperoleh pekerjaan sebagai pengajar. Ia ingin menjadi dosen biologi di
almamaternya, ITB, setelah lulus master of marine studies dari
University of Queensland, Australia.
Namun, lamarannya ditolak karena saat itu posisi sebagai dosen di ITB
penuh. Ketika mengajukan lamaran ke salah satu perguruan tinggi swasta,
ia juga tak diterima dengan alasan yang sama.
Berangkat dari pengalaman pahit tersebut, ibu satu putra ini kemudian
mengabdikan dirinya di Harvard Medical School, Boston, AS, sembari
menyelesaikan program postdoctoral di Department of Microbiology and
Molecural Genetic di Harvard Medical School. Ia juga akan menempuh
postdoctoral di universitas bergengsi lainnya, Princeton University, New
Jersey, AS.
”Kendati tak mengabdi untuk negeri, apa pun riset yang saya kerjakan,
di mana pun saya berada, insya Allah akan selalu untuk Indonesia. Itu
janji di hati,” katanya.
Ia juga berencana mencoba lagi mengikuti seleksi dosen di beberapa
perguruan tinggi di Tanah Air jika memungkinkan. Keinginannya untuk
menjadi pengajar di Indonesia masih besar.
”Kalau pulang, saya malah jadi beban. Jadi, saya melamar pekerjaan di
Amerika setelah jelas tidak mendapat tempat di Indonesia. Rezeki sudah
ada yang mengatur. Mungkin memang jatah saya di sini (AS) dulu,”
imbuhnya.
Pencapaian yang diraihnya tak membuat Naim tinggi hati. Di sela-sela
kesibukannya, wanita berjilbab ini menerima berbagai konsultasi untuk
tesis, disertasi, dan lainnya, terutama untuk warga Indonesia. Ia ingin
terus membagi ilmu. Ia juga tak henti menggugah rekan-rekannya yang
berlatar belakang kurang mampu namun memiliki kecerdasan untuk mencoba
meraih beasiswa di Negeri Paman Sam.
”Mahasiswa Indonesia di universitas terkemuka di AS sangat terbatas.
Saya menduga karena mereka khawatir dulu. Jangan punya kekhawatiran
berlebihan, Insya Allah kalau dicoba, tidak semengerikan yang
dibayangkan,” katanya


0 komentar:
Posting Komentar