Kamis, 21 Maret 2013

Sidrotun Naim, Doktor Udang Kelas Dunia dari Kartasura

 Keinginannya adalah pulang ke Tanah Air dan membagikan ilmu di negeri yang ia cintai. Sayang, berkali mencoba, posisi menjadi pengajar di beberapa universitas gagal ia raih. Padahal, wanita asal Makamhaji, Kecamatan Kartasura, Kabupaten Sukoharjo, ini merupakan peneliti peraih penghargaan tingkat dunia.
BERASAL dari keluarga sederhana, Sidrotun Naim (33) tak berkecil hati dalam menggayuh pendidikan. Ia mewujudkan mimpinya dan meraih beasiswa pendidikan di beberapa universitas terkemuka di Amerika Serikat, sehingga berhasil meraih gelar doktor di Universitas Arizona.


Pada 2012, alumnus Institut Teknologi Bandung (ITB) itu juga meraih penghargaan L'Oreal-UNESCO For Women in Science International. Penghargaan prestisius tersebut dia raih atas kiprah dan kontribusi penelitiannya di bidang sains bersama 14 perempuan peneliti muda lain dari lima benua.
Naim meneliti infeksi myonecrosis, virus yang mampu melumpuhkan 70 persen populasi udang di Indonesia. Riset itu dinilai memberikan kontribusi besar bagi dunia sains dan berpotensi meningkatkan perekenomian di negeri ini, terutama dalam budi daya udang.
”Setelah lulus dari S2 Biologi Kelautan dari University of Queensland, Australia, awal 2006, saya bekerja untuk World Wildlife Fund (WWF)-Indonesia di Aceh. Di sana saya terlibat dalam rekonstruksi dan rehabilitasi tambak pascatsunami,” papar Naim saat berbincang dengan Suara Merdeka melalui situs jejaring sosial.
Dari situ, pemilik gelar SSi MSc MS PhD ini tahu bahwa faktor pembatas budi daya udang adalah penyakit, dan Indonesia tidak punya satu pun ahli yang khusus mendalami tentang penyakit udang. Padahal, lanjutnya, udang adalah salah satu produk makanan laut andalan ekspor Indonesia.
"Petambak bertanya, ini harus diapakan? Saya bingung menjawabnya."
Dia kemudian belajar dan melaku-kan penelitian untuk menemukan penawar penyakit udang yang merugikan petambak.

Dimulai dengan mengamati interaksi infectious myonecrosis virus (IMNV), ia berhasil menemukan rasio serangan yang menyebabkan 70 persen udang mati dan 30 persen hidup. Udang yang bertahan hidup selanjutnya diamati.
Dari hasil penelitiannya di Universitas Arizona, AS, ia menemukan bahwa infeksi tersebut dapat dikendalikan. Caranya, dengan menerapkan sistem polikultur pada budi daya hewan laut itu. 
Terima Konsultasi
Kegigihan istri Dedi Priadi itu dalam melakukan penelitian membuahkan penghargaan internasional dari L'Oreal dan UNESCO. Penghargaan tersebut diberikan kepada peneliti muda dan lima peneliti senior dari berbagai negara.

Naim menjadi salah satu pemenang di Asia-Pasifik. Menurutnya, penghargaan itu sangat istimewa dan diharapkan bisa menginspirasi para perempuan muda.
Sayang, keberhasilan wanita yang terkenal sebagai ”doktor udang” di kancah internasional ini tak seiring sejalan dengan kemudahan untuk memperoleh pekerjaan sebagai pengajar. Ia ingin menjadi dosen biologi di almamaternya, ITB, setelah lulus master of marine studies dari University of Queensland, Australia.
Namun, lamarannya ditolak karena saat itu posisi sebagai dosen di ITB penuh. Ketika mengajukan lamaran ke salah satu perguruan tinggi swasta, ia juga tak diterima dengan alasan yang sama.
Berangkat dari pengalaman pahit tersebut, ibu satu putra ini kemudian mengabdikan dirinya di Harvard Medical School, Boston, AS, sembari menyelesaikan program postdoctoral di Department of Microbiology and Molecural Genetic di Harvard Medical School. Ia juga akan menempuh postdoctoral di universitas bergengsi lainnya, Princeton University, New Jersey, AS.

”Kendati tak mengabdi untuk negeri, apa pun riset yang saya kerjakan, di mana pun saya berada, insya Allah akan selalu untuk Indonesia. Itu janji di hati,” katanya.  
Ia juga berencana mencoba lagi mengikuti seleksi dosen di beberapa perguruan tinggi di Tanah Air jika memungkinkan. Keinginannya untuk menjadi pengajar di Indonesia masih besar.
”Kalau pulang, saya malah jadi beban. Jadi, saya melamar pekerjaan di Amerika setelah jelas tidak mendapat tempat di Indonesia. Rezeki sudah ada yang mengatur. Mungkin memang jatah saya di sini (AS) dulu,” imbuhnya.

Pencapaian yang diraihnya tak membuat Naim tinggi hati. Di sela-sela kesibukannya, wanita berjilbab ini menerima berbagai konsultasi untuk tesis, disertasi, dan lainnya, terutama untuk warga Indonesia. Ia ingin terus membagi ilmu. Ia juga tak henti menggugah rekan-rekannya yang berlatar belakang kurang mampu namun memiliki kecerdasan untuk mencoba meraih beasiswa di Negeri Paman Sam.
”Mahasiswa Indonesia di universitas terkemuka di AS sangat terbatas. Saya menduga karena mereka khawatir dulu. Jangan punya kekhawatiran berlebihan, Insya Allah kalau dicoba, tidak semengerikan yang dibayangkan,” katanya

0 komentar:

Posting Komentar